Friday, February 03, 2017

Trade Mall Seasons City: Pusat Ritel Terbesar di Jakarta Barat


Trade Mall Seasons City (Foto: rusunku.co.id)
Jakarta – Dihuni lebih 3.000 kios dan 1.000 konter lot, trade mall Seasons City, di Jalan Latumeten, kini adalah pusat perdagangan ritel terbesar di Jakarta Barat. Apa saja kebutuhanmu, bisa kamu dapatkan disini. 

Kemeja batik misalnya, bisa didapatkan dalam berbagai macam motif, dari batik tulis, batik cap, hingga batik printing. Harganya variasi, dari kemeja batik lengan pendek Rp 35.000 hingga batik eksklusif lengan panjang Rp 750 ribu. Celana jeans dari Rp 50 ribu hingga Rp 500 ribu. Berbagai keperluan pakaian bayi dan anak, harga Rp 10 ribu hingga Rp 300 ribu. Mukena, sarung, jilbab, sajadah, dan berbagai perlengkapan ibadah muslim, Rp 50 ribu hingga Rp 750 ribu. Juga aneka gadget, elektronik, dan aneka permainan tamiya.  

“Konsep trade mall memang menyediakan berbagai macam barang ritel. Ini seperti sebuah pasar tradisional yang terdiri dari banyak kios UKM, namun dengan fasilitas kenyamanan, kebersihan, dan keamanan yang setingkat mall. Harga pasar, fasilitas mall,” ujar Ho Mely Suryani, Asisten Vice President Marketing Trade Mall Agung Podomoro Land, perusahaan properti yang mengelola Seasons City. 

Beroperasi sejak 2009, trade mall ini kini dikunjungi 30.000 – 60.000 pengunjung setiap hari. Pada akhir pekan dan hari libur panjang, puluhan ribu orang seperti tumpah main ke mall ini, ramai sekali. Karena mal ini juga menyediakan berbagai sarana hiburan seperti pusat kuliner, pusat permainan anak-anak, bioskop, tempat karaoke, gedung pertemuan umum, pusat kebugaran, dan layanan ibadah gereja di dalam mal. 

Berbagai brand kuat juga hadir, seperti restoran KFC, AW, Solaria, Bioskop XXI, hotel bintang dua Amaris Hotel, dan Carrefour yang menempati 2 lantai. Berbagai acara hiburan juga rutin digelar tiap bulan di ruang publik di Lantai 1 yang menampilkan artis dan penyanyi terkenal, untuk menarik pengunjung. 

Pak Adeyosa, pemilik kios Fadillah Batik di Lantai 1, mengatakan berdagang di Seasons City sangat menguntungkan, karena pengunjung yang datang ramai dan mau berbelanja. Di kiosnya yang berukuran 3 x 4 meter, ia menjual batik-batik gaya Cirebonan. Motif batik Megamendung yang merupakan batik khas Jawa Barat, yang kini paling diminati. Memiliki 8 gerai batik di berbagai mal di Jakarta, menurut Pak Adeyosa, gerai batiknya di Seasons City dan Thamrin City yang paling laris. Selain itu, ia juga aktif berpameran keluar negeri. “Batik saya ini hasil produksi sendiri. Selain melayani ritel, juga grosir,” ujar Pak Adeyosa. 

Sebagian besar kios fashion di Seasons City tak hanya menjual produknya secara ritel, tetapi juga melayani perdagangan grosir. Di dalam trade mall ini, tersedia berbagai konter layanan pengiriman ekspedisi, sehingga memudahkan bagi setiap pembelanja grosir untuk mengirimkan barang belanjaannya ke alamat asal. 

Selain fashion umum dan batik, Seasons City juga terkenal sebagai pusat perdagangan gemstone. Ratusan kios dan lapak yang menjual gemstone dari berbagai pelosok tanah air dan luar negeri dapat ditemui di Lantai GF, Seasons City. Pak Zahir, pemilik kios Zahir Gondrong Gemstone, di Lantai GF, mengaku sudah 3 tahun membuka kios di Seasons City. Dia sempat membuka gerai gemstone di berbagai mal di Jakarta, namun kini yang masih bertahan kios di Seasons City. 

Di kiosnya di Seasons City, Pak Zahir menjual berbagai jenis gemstone, seperti Bacan, Junjung Darajat Garut, Pucuk Pisang Sungai Dareh, Bio Solar Aceh, Sulaiman Aceh, Raflesia Bengkulu, Obi Merah Lampung, dan lain-lain. “Kini trend gemstone yang dicari, yang dari Bacan, Aceh, Garut, dan Bengkulu,” ujarnya. Di kiosnya, ia menjual puluhan jenis batu permata, dari harga Rp 750 ribu hingga Rp 25 juta. 

Menurut Pak Zahir, sering adanya berbagai event pameran dan kontes batu permata yang digelar di Seasons City, yang membuat kios dan konter disini tetap ramai dikunjungi orang. 

Mengunjungi Seasons City, belum lengkap jika belum menjelajahi berbagai konter dan kios kuliner yang ada di setiap lantai. Terutama di pusat kulinernya di Lantai 2. Disini banyak dijumpai gerai makanan khas daerah, sea food, fast food, hingga gerai teppanyaki. Satu lantai dengan konter permainan untuk anak-anak, Lantai 2 Seasons City, seperti tak pernah sepi pengunjung. 

Menurut Ho Mely Surjani, trade mall yang dikelolanya, diperuntukkan bagi Usaha Kecil Menengah (UKM), sehingga berbagai jenis UKM yang biasa kita temui di jalanan atau di pasar tradisional dapat ditemui disini. 

Terletak dalam superblok seluas 5,5 hektar, Seasons City selain trade mall, juga komplek hunian yang terdiri dari 3 tower apartemen, ruko dan perkantoran, dan taman kota. Berada ditengah kompleks apartemen yang dihuni lebih 30.000 warga, membuat Seasons City tak pernah sepi. ***

Wahyuana

Berburu Gemstone di Seasons City: Dari Bio Solar Aceh Hingga Akik Bacan


Gemstone (Foto: bambangpriantono.wordpress.com)
Jakarta - Meski trend perdagangan gemstone atau batu permata tengah turun, tetapi tidak di trade mall Seasons City, Jalan Latumeten, Jakarta Barat. Sejak 3 tahun lalu, mal ini dikenal sebagai pusat perdagangan batu permata terbesar di Jakarta, dan masih tetap bertahan hingga kini. 

Berbagai jenis gemstone, giok, dan aneka perhiasan dari berbagai jenis bebatuan lain, bisa ditemukan disini. Baik yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, maupun dari negara-negara lain di Asia Tenggara. Terutama dari Myanmar. “Saat ini trend gemstone yang paling dicari, yang dari Bacan, Aceh, Garut, dan Bengkulu,” ujar Pak Zahir, pemilik kios Zahir Gondrong Gemstone, di Lantai GF, Seasons City (17/1). 

Pak Zahir sudah 3 tahun lebih membuka kios gemstone di Seasons City. Koleksinya banyak, beberapa bahkan telah memenangkan kontes batu permata di berbagai kompetisi. “Minggu lalu, saya menang dalam kontes yang diadakan Gemstone Padang Community. Lumayan dapat hadiah Rp 5 juta. Sekarang harganya naik, dulu sebelum lomba sekitar Rp 15 juta, kini ditawar Rp 25 juta belum saya berikan,” ujar Pak Zahir, sambil menunjukkan medali kemenangan, sertifikat batu permata, dan sebuah batu permata warna hijau cemerlang, jenis Bio Solar Aceh, yang memenangkan kontes tersebut kepada saya. Selain indah, batu permata ini dipercaya memiliki khasiat menyembuhkan, sehingga dinamai bio. 

Bio Solar Aceh ini berwarna hijau mengkilat, bersinar terang, mirip akik Bacan. Dipasang di atas chrome perak merek 925. Kalau disinari lampu dari bawah, batu permata ini akan nampak memancarkan sinar lebih terang. “Ini cocok dipakai orang bisnis, pengusaha, pejabat, atau orang-orang yang terpelajar,” ujarnya. 

Setiap batu permata di Zahir Gondrong yang berharga diatas Rp 1 juta, dilengkapi sertifikat dari My Gem Labs. Yang didalam sertifikat itu, tercantum keterangan  seperti kualitas batu, jenis batu, asal batu, dan lain-lain. Dengan sertifikat itulah, jaminan nilai sebuah batu permata dapat terjaga. Membuat harganya stabil, sehingga bisa diperdagangkan seperti laiknya emas, dan bisa untuk investasi (koleksi). Batu permata di Zahir Gondrong Gemstone rata-rata Rp 2 juta – Rp 25 juta per biji, termasuk dengan chrome-nya. 

Selain Zahir Gondrong Gemstone, ada lebih 100-an kios dan konter gemstone lain yang berjualan di Lantai GF, Seasons City. Pusat gemstone terbesar di Jakarta ini, juga dilengkapi dengan laboratorium gemstone; kios-kios jasa gosok, potong, dan poles; dan service chrome. Menurut para pedagang batu permata disini, adanya kompetisi yang sering diadakan di Seasons City, yang membuat sentra perdagangan batu permata ini tidak pernah sepi pembeli dan peminat. Beberapa bahkan datang dari luar Jakarta, khusus datang ke Seasons City untuk berburu batu permata. “Kadang sebulan atau 2 bulan sekali, diadakan kompetisi disini. Sehingga banyak komunitas mau datang kemari,” ujar Pak Zahir. 

Beberapa kios gemstone lain yang terkenal di Seasons City; Sangrila Gemstone, Kasiruta Gemstone, Kios 188 khusus untuk layanan gosok dan poles, Inti Gemologi Laboratorium Indonesia (laboratorium gemstone), MJ Gemstone, Tiga Saudara Service khusus untuk layanan reparasi chrome dan perhiasan lainnya, Imanuel Gemstone, Kios Ashavi khusus untuk layanan potong, gosok, dan poles; Fendy Gemstone, Hollywood Gemstone, Silver King Gemstone, Lucky Gemstone, Crysoberryl Gemstone, dan G2R 99 Gemstone. 

Semua jenis batu permata yang tengah naik daun di pasaran bisa ditemukan koleksinya di Seasons City. Seperti batu permata Junjung Darajat yang berwarna kecoklatan dan bergaris-garis. Junjung Darajat yang berasal dari Garut, Lampung, dan Bengkulu, kini sedang banyak dicari. Harganya rata-rata Rp 2 juta – 3 juta. Batu permata Junjung Darajat sering dipercaya mampu meningkatkan kewibawaan bagi pemakainya, dan juga bisa membawa hoki menaikkan derajat si pemakai. Tetapi bagi Pak Zahir sendiri, dia lebih mengapresiasi batu permata dari aspek keindahannya. “Coba lihat di depan cermin, indah kan. Magic-nya di keindahannya itu. Karena kalau indah, pemakainya akan terlihat lebih simpati,” ujarnya. 

Selain itu, juga banyak dijumpai batu permata Bacan Hijau, yang berasal dari Pulau Kasiruta, Halmahera Tengah, yang terkenal sejak dulu diburu kolektor. Rata-rata batu permata Bacan di Seasons City dijual antara Rp 3 juta – 20 juta, tergantung ukuran dan kualitasnya. Batu permata Pucuk Pisang dari Lampung, rata-rata dijual Rp 750 ribu – 2 juta tergantung ukuran dan kualitasnya. Batu permata Raflesia dari Bengkulu, dijual rata-rata Rp 750 ribu – 3 juta, tergantung kualitasnya. Batu permata Sulaiman dari Aceh, rata-rata dijual Rp 1 juta – 15 juta, tergantung kualitasnya, batu permata warna putih ini unik, karena kalau disinari dari bawah akan memancarkan cahaya berpendar lebih terang. Batu permata Obi Merah dari Sungai Dareh, Sumatera Barat, berwarna cokelat mengkilat, rata-rata dijual Rp 750 ribu – 6 juta, tergantung kualitas dan ukurannya. Setiap kios dan konter juga menjual aneka macam chrome perak (tempat batu permata). 

Menurut Pak Zahir, dalam sebulan ia bisa menjual 10 – 15 biji batu permata dari kiosnya di Seasons City, dengan harga bervariasi. Dengan harga sewa kios sekitar Rp 20 juta setahun, dan biaya listrik dan service kios sekitar Rp 250 ribu setiap bulan, Pak Zahir mengaku cukup menguntungkan membuka kios gemstone di Seasons City. Ia mengaku pernah membuka kios gemstone di beberapa mal lain di Jakarta, tapi paling untung di Seasons City. Menurut Pak Kurnia, sesama pedagang gemstone di Seasons City, selain untuk berbisnis, yang lebih penting dengan membuka kios di Seasons City adalah agar ia bisa dekat dengan teman-teman komunitasnya sesama penggemar gemstone Indonesia. 

Seasons City yang dikelola TM Agung Podomoro memang diperuntukkan bagi pedagang Usaha Kecil Menengah (UKM) seperti para pedagang batu permata ini, agar mereka bisa membuka usaha di mal yang megah dan nyaman. Ayo, main ke Seasons City. ***

Wahyuana

Blusukan di Blok B Tanah Abang, Pusat Kreatifitas Fashion Indonesia


Kesibukan pedagang Blok B Tanah Abang (rumahdijual.com)
Jakarta – Dikunjungi lebih 300 ribu orang per hari, dan lebih 25.000 pedagang pakaian berjualan di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, tak salah pasar ini disebut sebagai pasar fashion terbesar di Asia Tenggara. 

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mengaku takjub dengan kesibukan pasar ini yang luar biasa, ketika dia diajak Presiden Joko Widodo blusukan kesini pada Oktober 2016. 

Miliader dan pendiri Facebook, Mark Zuckenberg, meski keringat mengucur deras ketika berada diantara himpitan pengunjung pasar yang penuh sesak, ia mengaku senang dan takjub dengan variasi fashion dan murahnya harga pakaian yang dijual, ketika diajak blusukan Presiden Joko Widodo kesini, Oktober 2014. 

“Banyak menteri, artis, dan turis berkunjung kesini. Apalagi menjelang puasa dan lebaran, pengunjungnya meningkat 2 kali lipat,” ujar Ho Mely Surjani, Asisstant Vice President Marketing Trade Mall Agung Podomoro Land, perusahaan yang mengelola Blok B, salah satu blok terbesar di Pasar Tanah Abang.

Pasar Tanah Abang terdiri dari banyak blok. Blok yang paling nyaman, bersih, dan terkelola baik, yakni Blok A, Blok B, Blok F, Blok G, dan Blok Metro Tanah Abang. Blok-blok itulah yang ramai pengunjung. Hampir semua pedagang menjual produk fashion, kain, dan pakaian jadi. Kecuali di Blok G, yang selain fashion juga banyak pedagang kebutuhan sehari-hari. Di setiap blok, selalu tersedia pusat kuliner. 

Tidak sekedar pasar biasa, sesungguhnya Pasar Tanah Abang adalah etalase kreativitas orang Indonesia di bidang fashion. Kebanyakan pakaian yang dijual merupakan produk dan hasil desain para pengusaha kecil menengah (UKM). Tidak seperti di mal MBK Center, mal fashion street di Bangkok, dan Mustafa Center, Singapura misalnya, yang kebanyakan menjual produk-produk KW dari brand terkenal; di Pasar Tanah Abang ini, pakaian yang dijual justru hasil karya produsen lokal dari berbagai daerah. 

Ada juga kios yang menjual pakaian Jepang, Korea, dan India, tetapi tidak banyak. 

Di Lantai B1 dan Lantai LG, Blok B, pengunjung akan menemukan beberapa kios yang menjual ratusan model pakaian muslim berlabel Preview (untuk cowok) dan Kamilaa (untuk cewek). Kedua label ini hasil karya dari Itang Yunasz, desainer yang pasti sudah tak asing lagi bagi penggemar fashion Indonesia. 

Meskipun karya desainer top, harga bersahabat di kantong. Kaftan dan gamis, Rp 65 ribu – Rp 600 ribu. Dari kiosnya di Blok B ini, Preview dan Kamilaa kemudian dikirim ke berbagai toko pakaian dan pasar fashion di seluruh Indonesia. “Preview sering menggelar peragaan busana muslim setiap menjelang Ramadhan. Salah satu merek laris disini,” ujar Ayung, Manajer Promosi Trade Mall Blok B. 

Sedang kios Sari Busana Indah, di Lantai SLG, Blok B, menjual pakaian kasual dan beberapa pakaian muslim dengan label-label nasional yang sudah tidak asing lagi bagi penggemar fashion Indonesia, seperti Emico, Esteta, Eprise, dan Elogy. Harganya bervariasi, yang pasti masih bisa ditawar. Label-label itu juga bisa dijumpai di banyak kios lain, di blok-blok lain, di Pasar Tanah Abang

 Label pakaian wanita Ossy, juga salah satu merek terkenal dan banyak dicari di Blok B. Busana yang mengangkat kain tenun tradisional Jepara ini, dapat dijumpai kiosnya di Lantai LG. Menempati ruang yang luas, manekin-manekin berjejeran di dalam dan diluar kios, menampilkan gaun-gaun rancangan Ossy yang terkenal anggun dan mewah. Tak hanya melayani penjualan grosir, kios Ossy juga melayani eceran. 

Lee Nex, salah satu label pakaian pria yang sudah tak asing lagi bagi remaja laki-laki, mahasiswa, pemuda, maupun pria dewasa. Belasan variasi kemeja flanel pria lengan panjang, dan lengan pendek bermerek Lee Nex bisa dijumpai di setiap toko fashion. Dari kios grosirnya di Lantai 1, Blok B, Tanah Abang, Lee Nex siap melayani antrian pembeli yang ingin menjadi re-seller baju yang nyaman dipakai sehari-hari ini. 

Selain kios pakaian, di Lantai B2, Blok B, juga banyak dijumpai kios yang menjual bahan tekstil dengan kualitas tinggi. Kios Batavia Jaya misalnya, menyediakan aneka kain yang cocok untuk celana dan seragam kantor. Kios ini langganan kantor-kantor di Jakarta untuk mencari bahan seragam karyawan. Di dekatnya terdapat kios Bersaudara, menyediakan aneka bahan jas. Sedang kios D’Best yang ada di depannya menyediakan aneka kain untuk bahan pembuatan pakaian muslim wanita seperti gamis dan kaftan.  

Ada ribuan kios pakaian jadi dengan beragam label. Berbelanja ke Pasar Tanah Abang, sebaiknya telah mempunyai perencanaan matang sejak sebelum datang. Apa yang hendak dicari disini, dan berapa budget tersedia. Jika tidak direncanakan, pembeli bisa bingung sendiri dengan adanya banyak pilihan di 7 lantai pasar. Meski dijajakan dengan label mura, harga-harga semua pakaian disini masih bisa ditawar. ***

Wahyuana

Wednesday, March 06, 2013

Melongok Manta ray Penida dan Moray eel Tulamben

Bali, Indonesia - Bali surga diving; kata-kata yang begitu sering saya dengar. Rugi kalau dalam hidup yang singkat ini, kita tidak sempat menyelami dunia bawah air Bali. Karena selain menawarkan kekayaan kehidupan bawah laut yang elok, medan penyelaman juga sangat menantang untuk petualangan. Terpengaruh dengan slogan itu. Saya pun mencobanya akhir tahun lalu. Menyelam di dua spot paling hot di Bali, yakni kawasan Nusa Penida dan Tulamben. Nusa Penida berada di perairan selatan Bali, satu gugusan dengan Nusa Centingan dan Nusa Lembongan. 

Keduanya, termasuk spot paling menantang dalam peta tempat-tempat diving di Indonesia, karena bagian dalam laut Nusa Penida sering tiba-tiba berarus keras (kadang lebih dari 2 – 2,5 knot) sehingga perlu ketrampilan dan kesiapan lebih untuk mengatasinya. Hampir setiap tahun terdengar ada penyelam yang mengalami insiden kecelakaan penyelaman disini, hilang, atau terbawa arus dan kemudian terdampar jauh dari titik masuk penyelaman semula. Posisinya yang dekat dengan perbatasan perairan Australia, juga menyebabkan sering terjadi pergerakan arus bawah laut karena perbedaan suhu, sehingga suhu air kadang juga tiba-tiba menjadi sangat dingin (16 – 22 celcius). Dari Pantai Sanur, Nusa Penida bisa ditempuh sekitar 1 jam perjalanan dengan speedboat

Pagi-pagi sekitar pukul 06.00 wib kami sudah dijemput dive operator untuk mempersiapkan diri dan peralatan. Setelah sesi sebentar untuk tanya jawab oleh pemandu selam (dive buddy) tentang pengalaman dan kemampuan kita dalam penyelaman, sekitar pukul 08.00 kami pun berangkat berlayar ke spot tujuan. 


Cuaca cerah, ombak cukup tenang. Perjalanan sangat menyenangkan dengan pemandangan beberapa ekor lumba-lumba yang berenang timbul tenggelam mengikuti perjalanan. Sekitar pukul 09.00 sampailah kami di spot penyelaman pertama, Crystal Bay, Nusa Penida. 

Wow, sepagi itu, tempat ini sudah seperti pasar, ada belasan kapal berlabuh berjauhan ditengah teluk Nusa Penida, semuanya membawa para turis selam. 

Baru kali ini saya melihat lokasi penyelaman begitu ramai, biasanya saya hanya ke spot-spot sepi. Bali memang beda. Kami pun segera bersiap dan tidak berapa lama segera turun ke laut dengan scuba di punggung. Ada 2 orang Swiss, seorang RRC, dan 2 orang penyelam dari Jakarta dalam trip ini. Dengan dua orang buddy dive yang orang Bali asli, mereka pun terlebih dulu melakukan doa dan upacara arung sesaji sebelum penyelaman dimulai. “Agar semua lancar dan menyenangkan,” ujar Aris Wistana, buddy selam saya dari Bluefin Dive Center, sambil melepas sesaji ke laut. 

Crystal Bay sungguh beda dengan spot-spot penyelaman di sekitar Kepulauan Seribu, Jakarta, hari itu jarak pandang (visibility) mencapai 20 meter, suasana di kedalaman 15 – 25 meter sangat terang, dengan banyak ikan warna warni melayang. Pasir di bawah juga sangat bersih, tidak berlumpur. Karang-karang berwarna-warni dalam keadaan sehat semua. Ini sebuah surga bawah air, dengan aneka ikan melayang diantara terumbu karang, seperti macam-macam clownfish, butterfly fish, anthias, angelfish dan lain-lain. 


Tidak banyak ikan besar. Bulan Oktober ini, sesungguhnya bulan musim Mola-Mola di Crystal Bay, yang memang terkenal sebagai spot ikan Mola-mola raksasa. Namun hingga kami menunggu selama 50 menit di kedalaman 26 meter, tidak menemukan hidungnya. Kami pun segera kembali ke permukaan. Senang, penyelaman pertama bisa  dilalui dengan berkesan meski tidak menemukan Mola-mola seperti yang hendak kami buru di awal trip.

Kekecewaan yang segera terobati di penyelaman kedua di spot Manta Point, Nusa Penida, sekitar 300 meter ke arah selatan dari Crystal Bay. Inilah spot penyelaman Manta Ray yang terbaik di perairan Indonesia. Belum 10 menit kami turun dari kapal, dan masih di kedalaman sekitar 10 meter, sekelompok Manta Ray raksasa berjumlah enam ekor tampak secara gagah melintas di atas kepala. Wow.. ini untuk pertama kalinya saya menemukan Ikan Pari raksasa berwarna gelap yang lebarnya hingga lebih dari 2 meter dan panjangnya sekitar 3 meter. Dunia bawah air menjadi gelap ketika kelompok Manta ini lewat. 


Meski deg degan dengan kehadiran mereka yang mendominasi dan menguasai ruang bawah air, untungnya mereka sangat jinak dan tidak berbahaya. Kami pun bisa bermain-main melayang-layang diantara mereka, karena mereka bolak-balik disekitar lokasi. Dengan jarak pandang sekitar 18 meter, suhu sekitar 18 celcius, dan arus sekitar 0,5 knot saja, membuat kami bisa menikmati penyelaman dengan Manta Ray ini hingga hampir satu jam. 

Penyelaman Manta Ray juga bisa ditemukan di Komodo, Derawan, Wakatobi, Bunaken, dan Raja Ampat. Namun tidak ada yang sensasional di Nusa Penida; Manta berukuran raksasa, populasi masih banyak, dan tidak terlalu sulit menemukannya. Sekitar 200 meter dari lokasi Manta Point I ini, kini juga ditemukan lokasi penyelaman manta baru, yang juga sangat menantang untuk di selami karena arus kuat, suhu dingin, dan banyak lumba-lumba di tempat sama. Hanya posisinya yang dikelilingi karang curam penuh resiko terhadap ancaman ombak besar ketika penyelam sedang berada di permukaan air. 

Kami tidak jadi menyelami point ini. Dan memilih penyelaman ketiga kembali ke Crystal Bay untuk memburu keinginan melihat Mola-Mola. Sayang penyelaman ketiga ini pun tidak berhasil bertemu sang Mola-Mola. Sekitar pukul 16.00 kami pun kembali ke Sanur setelah hari itu menyelesaikan 3 kali penyelaman yang sungguh berkesan. 

Hari kedua, penyelaman saya lanjutkan ke pantai Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur. Sekitar 7 jam perjalanan dengan mobil dari Sanur. Dua situs ini, Nusa Penida dan Tulamben, adalah andalan wisata penyelaman di Bali. Ramai sekali di musim liburan. Kalau Nusa Penida menawarkan sensasi petualangan menyelam di medan menantang, Tulamben menawarkan sensasi menyelam untuk melihat bangkai kapal tenggelam USS Liberty yang kini dihuni beragam karang dan ribuan jenis ikan dengan populasi tinggi. 


Bangkai kapal itu berada pada kedalaman sekitar 15 meter sehingga mudah dicapai. Di sekitar bangkai kapal USS Liberty, terdapat medan drop off yang cukup menantang untuk di selami dengan kedalaman hingga lebih 60 meter, yang seringkali dihuni ikan-ikan besar seperti hiu. Jika di Nusa Penida penyelaman harus menggunakan kapal untuk mencapai lokasi, di Tulamben penyelam cukup berjalan dari tepi pantai hingga tenggelam kedalam laut (shore dive). Hari itu kami merencanakan 2 kali menyelam di siang hari, dan sekali malam. 

Menyelam di Tulamben lebih mudah daripada di Nusa Penida. Ombak tidak terlalu keras, penyelaman dari pantai mudah dilakukan.

Sebaiknya pagi-pagi sekali sudah mulai menyelam, ketika jarak pandang di dalam laut masih terang. Setelah berjalan sekitar 15 meter dari titik penyelaman awal, pada kedalaman sekitar 8 meter, akhirnya kami bisa menemukan bangkai kapal USS Liberty yang tenggelam disini sewaktu Perang Dunia II pada 1942. Kapal sungguh besar, panjang sekitar 120 meter dengan tinggi hingga kedalaman sekitar 30 meter. 

Posisinya yang berada di Selat Lombok, menjadikan perairan Tulamben kaya dengan plankton yang terbawa dari arus yang bergerak antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, menjadikan situs bangkai kapal USS Liberty dihuni banyak ikan. Dari berbagai jenis clownfish, anglefish, stingray, barracuda, travelly, hiu, manta, hingga berbagai jenis nudibranch yang menempel di dinding-dinding kapal. Sangat menantang untuk obyek fotografi bawah laut, baik untuk obyek makro maupun lansekap. Salah satu situs penyelaman terbaik di Tulamben yakni situs Coral Garden (taman terumbu karang), yang terletak antara situs drop off dan bangkai kapal USS Liberty, yang juga bisa dinikmati cukup dengan snorkeling atau freediving. 

Yang paling mengesankan saya di Tulamben, ketika pada
penyelaman malam hari menemukan giant moray eel, atau belut raksasa yang panjangnya lebih 3 meter dan berdiameter sekitar 20 centimeter. Membelut-belut di dinding-dinding kapal, membuat penyelaman malam menjadi sangat mencekam. Jika terganggu Moray eel juga bisa menggigit penyelam meski secara umum biasanya jinak.       

Enam kali menyelam di Tulamben dan Nusa Penida

selama dua hari jalan-jalan di Bali, cukup memuaskan hasrat mengenali dunia bawah air Bali. Biayanya pun tak terlalu mahal, Rp 2.400.000 termasuk makan, guide, seluruh peralatan menyelam, dan transportasi. Cocok buat pemula hingga profesional. Selain Tulamben dan Nusa Penida, Bali memiliki banyak lokasi diving yang selalu ramai dikunjungi penyelam sepanjang tahun. Wahyuana, diver.

Thursday, May 10, 2012

Asyiknya Menyelam di Gua Bawah Laut Padaido

Sabtu, 05 Mei 2012 | 04:47 WIB | TEMPO.CO , Biak: Papua tidak hanya memiliki Raja Ampat dan Teluk Cendrawasih, Nabire, untuk wisata menyelam yang sensasional. Tetapi juga Kepulauan Padaido, Biak.

Kalau Raja Ampat menyajikan keanekaragaman kehidupan bawah lautnya yang kaya; Nabire menyajikan sensasi menyelam dengan hiu paus (whale shark); Padaido menawarkan sensasi penyelaman gua bawah laut (cave diving) dan penelusuran sisa-sisa bangkai Perang Dunia II (wreck diving). Cocok bagi penyelam pemula hingga mahir.

Saya mencobanya bulan lalu. Ini pengalaman pertama. Biasa main ke gua air tawar, baru kali ini menyelam gua  bawah laut. Ngeri-ngeri sedap membayangkannya.

Dari Jakarta saya naik Garuda Airline ke Bandara Manuel Kasiepo, Biak. Sembilan jam perjalanan malam, transit di Makassar, pagi-pagi sekali sampailah kami di Biak. Sehari semalam istirahat. Besoknya, acara  menyelam bersama Biak Diving dimulai. Pagi-pagi sekali kami menyewa speedboat dari pelabuhan Tiptop, Biak, menuju Pulau Wundi, yang berada di tengah gugusan Kepulauan Padaido. Sekitar tiga jam perjalanan.

Dengan pemandangan menakjubkan; sekitar delapan lumba-lumba timbul tenggelam berenang mengikuti perjalanan kami. Cuaca cerah. Langit membiru, sebiru warna laut. Perahu-perahu tradisional nelayan setempat tampak sibuk melempar jaring ikan. Tak ada kapal modern besar yang kami temukan sepanjang perjalanan, hanya perahu-perahu kayu.

Padaido ini adalah nama gugusan sekitar 36 pulau-pulau besar kecil yang berada di tenggara Pulau Biak, Kebupaten Biak Numfor, Papua. Gugusan pulau-pulau yang indah. Dengan atol-atol luas mengelilingi setiap pulau.

Keseluruhan pulau dihubungkan dalam sebuah atol besar membentuk sebuah kawasan kepulauan dengan laut dangkal seluas 23 kilometer. Pastikan ritme pasang surut air ketika berkunjung ke kawasan ini, kadang air cepat surut. Nakhoda kapal mesti yang berpengalaman karena banyak coral yang menyembul di kedalaman. Sepintas lautan tampak datar-datar saja, namun banyak karang terbenam yang bisa menjungkalkan kapal.

Masing-masing pulau dikelilingi dengan pantai pasir putih yang menawan. Dari kota Biak, pemandangan kawasan Kepulauan Padaido ini bisa dilihat dengan samar-samar. Kebanyakan pulau hanya dihuni 7 – 10 keluarga saja. Sehingga bekal makanan harus cukup jika tidak ingin kelaparan selama berkunjung. Hanya ada sebuah penginapan sederhana di Pulau Wundi, Wundi Guesthouse, yang bisa dipesan jauh hari. Penginapan para peneliti laut ini juga disewakan bagi wisatawan.

Sedangkan lanskap di kedalaman berupa dinding-dinding karang melandai hingga laut dalam. Arus laut cukup kuat di beberapa bagian, terutama di sekitar Pulau Meoswarek. Jarak pandang di kedalaman hingga 25 meter lebih, seperti tengah berenang di dalam sebuah akuarium raksasa.

Sejauh mata memandang di dalam laut, keindahan hamparan acropora memenuhi lanskapnya pada kedalaman 10 – 20 meter. “Cocok untuk wall dive dan menikmati sensasi arus,” ujar Erick Farwas, divemaster yang menemani saya dari Biak Diving, satu-satunya dive center di Biak.

Menyelam di kawasan acropora yang luas seperti Padaido membuat saya agak bimbang. Jadi menyelam atau tidak? Kalau menyelam dan terjatuh di atasnya, pasti akan menanggalkan cabang-cabangnya, yang berarti merusaknya. Tapi kalau tak menyelam, sungguh rugi tak menikmati keindahannya. Satu-satunya cara, harus hati-hati ketika menyelam, daya apung (bauyoncy) harus bagus.

Sekitar jam 9 siang, kami sampai lokasi yang dituju, gua bawah laut Wundi. Erick Farwas rupanya mengajak saya langsung pada spot unggulan Padaido pada penyelaman pertama. Wow. Lautnya bening, hamparan acropora, ikan-ikan warna-warni berseliweran. Sesungguhnya dengan snorkeling sudah cukup untuk menikmati semua keindahan ini, juga lebih aman dari resiko merusak keindahan karangnya. Tapi kami ingin menikmati Gua Wundi, dan itu mesti menyelam.

Dengan teknik backroll kami pun turun dari kapal dengan scuba di punggung. Erick Farwas mewanti-wanti saya agar selalu berjalan beriringan karena arus sering kali tiba-tiba muncul merepotkan. Setelah berjalan sekitar 12 meter dari kami turun, akhirnya kami menemukan lubang Gua Wundi pada kedalaman 15 meter.

Pintu gua berdiameter sekitar 2 meter, sangat kecil untuk memasuki gua bawah laut dengan scuba di punggung dengan fins di kaki. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya saya berhasil masuk, diikuti Farwas. Di dalam gua cukup terang dari pantulan cahaya matahari yang terik di siang itu. Kami menyelam tanpa membawa lampu.

Begitu masuk gua. Wow. Sebuah penyu selebar setengah meter melayang pindah tempat dari dekat pintu gua karena terganggu kedatangan kami. Penyu yang dari sorot matanya, tampaknya sudah hidup puluhan tahun. Makin ke dalam, ruang gua semakin gelap. Hanya ikan-ikan kedalaman, nudibranch, dan karang-karang daun. Pikiran mulai membayang, bagaimana kalau saya terjebak di dalamnya, atau selang-selang selam tersangkut, atau diserang binatang buas.

Seekor Napoleon sekitar setengah meter kami temukan sembunyi kedalaman 18 meter. Yang unik dari Gua Wundi dan yang membuatnya cocok untuk wisata cave diving, gua ini berupa lorong sepanjang sekitar 20 meter. Terdapat tiga pintu. Di kanan kiri lorong masih terdapat gua-gua kecil yang cocok buat penyelam mahir. Penyelam pemula bisa menikmatinya cukup dengan melewati lorong utama.

Kedalaman bagian-bagian dalam gua juga beragam, dari 12 meter hingga yang paling dalam hanya berupa lorong gelap gulita. Sekitar 30 menit hilir mudik di seluruh ruang gua menikmati misterinya, kami memutuskan kembali keluar melalui pintu kedua, jaraknya sekitar 20 meter dari pintu masuk.

Penyelaman kedua kami turun di Baracuda Point di dekat pulau Meoswerek.  Lokasi ini berupa dinding karang landai dengan arus kuat. Ribuan baraccuda mendiami lokasi ini. Sungguh menggetarkan. Malamnya kami menginap di Wundi.

Penyelaman esoknya kami menikmati spot penyelaman di Pulau Owi dan Ruras. Untuk sehari menyelam, harganya cukup mahal, Rp 2 juta per hari. “Semua mahal  di sini. Bensin saja Rp 25 ribu seliter,” ujar Erik Farwas.

Padaido tidak hanya menyajikan spot penyelaman Gua Wundi, Baraccuda Point, Owi, Ruras, tetapi juga masih banyak spot penyelaman lain. “Ada 29 titik penyelaman yang bisa dinikmati,” ujar Erick Farwas. Di antaranya, spot-spot penyelaman bangkai Perang Dunia II, seperti bangkai bekas kapal perang yang karam, landasan pesawat Jepang, bangkai pesawat udara, dan peralatan perang lain.

Untuk merasakan sensasi penyelaman pada spot-spot ini kami pasti akan kembali lagi ke Padaido.

WAHYUANA