Wednesday, March 06, 2013

 

Melongok Manta ray Penida dan Moray eel Tulamben


Bali, Indonesia - Bali surga diving; kata-kata yang begitu sering saya dengar. Rugi kalau dalam hidup yang singkat ini, kita tidak sempat menyelami dunia bawah air Bali. Karena selain menawarkan kekayaan kehidupan bawah laut yang elok, medan juga sangat menantang untuk petualangan. Terpengaruh dengan slogan itu. Saya pun mencobanya akhir tahun lalu. Menyelam di dua spot paling hot di Bali, yakni kawasan Nusa Penida dan Tulamben. Nusa Penida berada di perairan selatan Bali, satu gugusan dengan pulau Nusa Centingan dan pulau Nusa Lembongan. 

Termasuk spot paling menantang dalam peta tempat-tempat diving di Indonesia, karena bagian dalam laut sering arus keras (kadang lebih dari 2 – 2,5 knot) sehingga perlu ketrampilan dan kesiapan lebih untuk mengatasinya. Hampir setiap tahun terdengar ada penyelam yang mengalami insiden disini, hilang, atau terbawa arus dan kemudian terdampar jauh dari spot penyelaman semula. Posisinya yang dekat dengan perbatasan perairan Australia, juga menyebabkan sering terjadi pergerakan arus bawah laut karena perbedaan suhu, sehingga suhu air bisa tiba-tiba menjadi sangat dingin (16 – 22 celcius). Dari pantai Sanur, pulau Nusa Penida bisa ditempuh sekitar 1 jam perjalanan dengan speedboat

Pagi-pagi sekitar pukul 06.00 wib kami sudah dijemput dive operator untuk mempersiapkan diri dan peralatan. Setelah sesi sebentar untuk tanya jawab oleh buddy tentang pengalaman dan kemampuan kita dalam penyelaman, sekitar pukul 08.00 kami pun berangkat berlayar ke spot tujuan. Cuaca cerah, ombak cukup tenang. Perjalanan cukup menyenangkan dengan pemandangan beberapa ekor lumba-lumba yang berenang timbul tenggelam mengikuti perjalanan. Sekitar pukul 09.00 sampailah kami di spot penyelaman pertama, Crystal Bay, Nusa Penida. Wow, pagi itu, tempat ini sudah seperti pasar, ada belasan kapal berlabuh berjauhan ditengah teluk Nusa Penida, semuanya membawa para turis selam. 


Hmm.. baru kali ini saya melihat lokasi penyelaman begitu ramai, biasanya saya hanya ke spot-spot sepi. Bali memang beda. Kami pun segera bersiap dan tidak berapa lama segera turun ke laut dengan scuba di punggung. Ada 2 orang Swiss, seorang RRC, dan 2 orang penyelam dari Jakarta dalam trip ini. Dengan dua orang buddy dive yang orang Bali asli, mereka pun terlebih dulu melakukan doa dan upacara arung sesaji sebelum penyelaman dimulai. “Agar semua lancar dan menyenangkan,” ujar Aris Wistana, buddy selam saya dari Bluefin Dive Center, sambil melepas sesaji ke laut. 

Crystal Bay sungguh beda dengan spot-spot penyelaman di sekitar Kepulauan Seribu, Jakarta, hari itu jarak pandang (visibility) mencapai 20 meter, suasana di kedalaman 15 – 25 meter sangat terang, dengan banyak ikan warna warni melayang. Pasir di bawah juga sangat bersih, tidak berlumpur. Karang-karang berwarna-warni dalam keadaan sehat semua. Ini sebuah surga bawah air, dengan aneka ikan melayang diantara terumbu karang, seperti macam-macam clownfish, gatrins oriental, anthas, angelfish dan lain-lain. 


Tidak banyak ikan besar. Bulan Oktober ini, sesungguhnya bulan musim Mola-Mola di Crystal Bay, yang memang terkenal sebagai sebagai spot Mola-mola raksasa. Namun hingga kami menunggu selama 50 menit di kedalaman hingga 26 meter, tidak menemukan hidungnya. Kami pun segera kembali ke permukaan. Senang, penyelaman pertama bisa  dilalui dengan berkesan meski tidak menemukan Mola-mola seperti yang hendak kami buru di awal trip.

Kekecewaan yang segera terobati di penyelaman kedua di spot Manta Point, Nusa Penida, sekitar 300 meter ke arah selatan dari Crystal Bay. Inilah spot penyelaman Manta Ray yang terbaik di perairan Indonesia. Belum 10 menit kami turun dari kapal, dan masih di kedalaman sekitar 10 meter, sekelompok Manta Ray raksasa berjumlah enam ekor tampak secara gagah melintas di atas kepala. Wow.. ini untuk pertama kalinya saya menemukan Ikan Pari raksasa berwarna gelap yang lebarnya hingga lebih dari 2 meter dan panjangnya sekitar 3 meter. Dunia bawah air menjadi gelap ketika kelompok Manta ini lewat. 


Meski deg degan dengan kehadiran mereka yang mendominasi dan menguasai ruang bawah air, untungnya mereka sangat jinak dan tidak berbahaya. Kami pun bisa bermain-main melayang-layang diantara mereka, karena mereka bolak-balik disekitar lokasi. Dengan jarak pandang sekitar 18 meter, suhu sekitar 18 celcius, dan arus sekitar 0,5 knot saja, membuat kami bisa menikmati penyelaman dengan Manta Ray ini hingga hampir satu jam. 

Penyelaman Manta Ray juga bisa ditemukan di Komodo, Derawan, Wakatobi, Bunaken, dan Raja Ampat. Namun tidak ada yang sensasional di Nusa Penida; Manta berukuran raksasa, populasi masih banyak, dan tidak terlalu sulit menemukannya. Sekitar 200 meter dari lokasi Manta Point I ini, kini juga ditemukan lokasi penyelaman manta baru, yang juga sangat menantang untuk di selami karena arus kuat, suhu dingin, dan banyak lumba-lumba di tempat sama. Hanya posisinya yang dikelilingi karang curam penuh resiko terhadap ancaman ombak besar ketika penyelam sedang berada di permukaan air. 

Kami tidak jadi menyelami point ini. Dan memilih penyelaman ketiga kembali ke Crystal Bay untuk memburu keinginan melihat Mola-Mola. Sayang penyelaman ketiga ini pun tidak berhasil bertemu sang Mola-Mola. Sekitar pukul 16.00 kami pun kembali ke Sanur setelah hari itu menyelesaikan 3 kali penyelaman yang sungguh berkesan. 

Hari kedua, penyelaman saya lanjutkan ke pantai Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur. Sekitar 7 jam perjalanan dengan mobil dari Sanur. Dua situs ini, Nusa Penida dan Tulamben, adalah andalan wisata penyelaman di Bali. Ramai sekali di musim liburan. Kalau Nusa Penida menawarkan sensasi petualangan menyelam di medan menantang, Tulamben menawarkan sensasi menyelam untuk melihat bangkai kapal tenggelam USS Liberty yang kini dihuni beragam karang dan ribuan jenis ikan dengan populasi tinggi. 


Bangkai kapal itu berada pada kedalaman sekitar 15 meter sehingga mudah dicapai. Di sekitar bangkai kapal USS Liberty, terdapat medan drop off yang cukup menantang untuk di selami dengan kedalaman hingga lebih 60 meter, yang seringkali dihuni ikan-ikan besar seperti hiu. Jika di Nusa Penida penyelaman harus menggunakan kapal untuk mencapai lokasi, di Tulamben penyelam cukup berjalan dari tepi pantai hingga tenggelam kedalam laut (shore dive). Hari itu kami merencanakan 2 kali menyelam di siang hari, dan sekali malam. 

Menyelam di Tulamben lebih mudah daripada di Nusa Penida. Ombak tidak terlalu keras, penyelaman dari pantai mudah dilakukan.

Sebaiknya pagi-pagi sekali sudah mulai menyelam, ketika jarak pandang di dalam laut masih terang. Setelah berjalan sekitar 15 meter dari titik penyelaman awal, pada kedalaman sekitar 8 meter, akhirnya kami bisa menemukan bangkai kapal USS Liberty yang tenggelam disini sewaktu Perang Dunia II pada 1942. Kapal sungguh besar, panjang sekitar 120 meter dengan tinggi hingga kedalaman sekitar 30 meter. 

Posisi kapal yang berada di selat Bali, menjadikan Tulamben kaya dengan plankton yang terbawa dari arus Samudera Hindia dan Pasifik menjadikan situs bangkai kapal USS Liberty dihuni banyak ikan. Dari berbagai anemonfish, anglerfish, stingray, blue bumped, hiu, manta, hingga berbagai nudibranch yang menempel di dinding-dinding kapal. Sangat menantang untuk obyek fotografi bawah laut baik untuk makro atau lanskap. Salahsatu spot terbaik di Tulamben yakni The Coral Garden (taman terumbu karang), yang terletak antara spot drop off dan bangkai kapal USS Liberty, yang bisa dinikmati cukup dengan snorkeling atau freediving. 

Yang paling mengesankan saya di Tulamben, ketika pada
penyelaman malam hari menemukan Moray eel, atau belut raksasa yang panjangnya lebih 3 meter dan berdiameter sekitar 20 centimeter. Membelut-belut di dinding-dinding kapal, membuat penyelaman malam menjadi mencekam. Jika terganggu Moray eel bisa menggigit penyelam meski secara umum biasanya jinak.       

Enam kali menyelam di Tulamben dan Nusa Penida

selama dua hari jalan-jalan di Bali, cukup memuaskan hasrat mengenali dunia bawah air Bali. Biayanya pun tak terlalu mahal, Rp 2.400.000 termasuk makan, guide, seluruh peralatan menyelam, dan transportasi. Cocok buat pemula hingga profesional. Selain Tulamben dan Nusa Penida, Bali memiliki banyak lokasi diving yang selalu ramai dikunjungi penyelam sepanjang tahun. Wahyuana, diver.


Thursday, May 10, 2012

 

Asyiknya Menyelam di Gua Bawah Laut Padaido


Sabtu, 05 Mei 2012 | 04:47 WIB | TEMPO.CO , Biak: Papua tidak hanya memiliki Raja Ampat dan Teluk Cendrawasih, Nabire, untuk wisata menyelam yang sensasional. Tetapi juga Kepulauan Padaido, Biak.

Kalau Raja Ampat menyajikan keanekaragaman kehidupan bawah lautnya yang kaya; Nabire menyajikan sensasi menyelam dengan hiu paus (whale shark); Padaido menawarkan sensasi penyelaman gua bawah laut (cave diving) dan penelusuran sisa-sisa bangkai Perang Dunia II (wreck diving). Cocok bagi penyelam pemula hingga mahir.

Saya mencobanya bulan lalu. Ini pengalaman pertama. Biasa main ke gua air tawar, baru kali ini menyelam gua  bawah laut. Ngeri-ngeri sedap membayangkannya.

Dari Jakarta saya naik Garuda Airline ke Bandara Manuel Kasiepo, Biak. Sembilan jam perjalanan malam, transit di Makassar, pagi-pagi sekali sampailah kami di Biak. Sehari semalam istirahat. Besoknya, acara  menyelam bersama Biak Diving dimulai. Pagi-pagi sekali kami menyewa speedboat dari pelabuhan Tiptop, Biak, menuju Pulau Wundi, yang berada di tengah gugusan Kepulauan Padaido. Sekitar tiga jam perjalanan.

Dengan pemandangan menakjubkan; sekitar delapan lumba-lumba timbul tenggelam berenang mengikuti perjalanan kami. Cuaca cerah. Langit membiru, sebiru warna laut. Perahu-perahu tradisional nelayan setempat tampak sibuk melempar jaring ikan. Tak ada kapal modern besar yang kami temukan sepanjang perjalanan, hanya perahu-perahu kayu.

Padaido ini adalah nama gugusan sekitar 36 pulau-pulau besar kecil yang berada di tenggara Pulau Biak, Kebupaten Biak Numfor, Papua. Gugusan pulau-pulau yang indah. Dengan atol-atol luas mengelilingi setiap pulau.

Keseluruhan pulau dihubungkan dalam sebuah atol besar membentuk sebuah kawasan kepulauan dengan laut dangkal seluas 23 kilometer. Pastikan ritme pasang surut air ketika berkunjung ke kawasan ini, kadang air cepat surut. Nakhoda kapal mesti yang berpengalaman karena banyak coral yang menyembul di kedalaman. Sepintas lautan tampak datar-datar saja, namun banyak karang terbenam yang bisa menjungkalkan kapal.

Masing-masing pulau dikelilingi dengan pantai pasir putih yang menawan. Dari kota Biak, pemandangan kawasan Kepulauan Padaido ini bisa dilihat dengan samar-samar. Kebanyakan pulau hanya dihuni 7 – 10 keluarga saja. Sehingga bekal makanan harus cukup jika tidak ingin kelaparan selama berkunjung. Hanya ada sebuah penginapan sederhana di Pulau Wundi, Wundi Guesthouse, yang bisa dipesan jauh hari. Penginapan para peneliti laut ini juga disewakan bagi wisatawan.

Sedangkan lanskap di kedalaman berupa dinding-dinding karang melandai hingga laut dalam. Arus laut cukup kuat di beberapa bagian, terutama di sekitar Pulau Meoswarek. Jarak pandang di kedalaman hingga 25 meter lebih, seperti tengah berenang di dalam sebuah akuarium raksasa.

Sejauh mata memandang di dalam laut, keindahan hamparan acropora memenuhi lanskapnya pada kedalaman 10 – 20 meter. “Cocok untuk wall dive dan menikmati sensasi arus,” ujar Erick Farwas, divemaster yang menemani saya dari Biak Diving, satu-satunya dive center di Biak.

Menyelam di kawasan acropora yang luas seperti Padaido membuat saya agak bimbang. Jadi menyelam atau tidak? Kalau menyelam dan terjatuh di atasnya, pasti akan menanggalkan cabang-cabangnya, yang berarti merusaknya. Tapi kalau tak menyelam, sungguh rugi tak menikmati keindahannya. Satu-satunya cara, harus hati-hati ketika menyelam, daya apung (bauyoncy) harus bagus.

Sekitar jam 9 siang, kami sampai lokasi yang dituju, gua bawah laut Wundi. Erick Farwas rupanya mengajak saya langsung pada spot unggulan Padaido pada penyelaman pertama. Wow. Lautnya bening, hamparan acropora, ikan-ikan warna-warni berseliweran. Sesungguhnya dengan snorkeling sudah cukup untuk menikmati semua keindahan ini, juga lebih aman dari resiko merusak keindahan karangnya. Tapi kami ingin menikmati Gua Wundi, dan itu mesti menyelam.

Dengan teknik backroll kami pun turun dari kapal dengan scuba di punggung. Erick Farwas mewanti-wanti saya agar selalu berjalan beriringan karena arus sering kali tiba-tiba muncul merepotkan. Setelah berjalan sekitar 12 meter dari kami turun, akhirnya kami menemukan lubang Gua Wundi pada kedalaman 15 meter.

Pintu gua berdiameter sekitar 2 meter, sangat kecil untuk memasuki gua bawah laut dengan scuba di punggung dengan fins di kaki. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya saya berhasil masuk, diikuti Farwas. Di dalam gua cukup terang dari pantulan cahaya matahari yang terik di siang itu. Kami menyelam tanpa membawa lampu.

Begitu masuk gua. Wow. Sebuah penyu selebar setengah meter melayang pindah tempat dari dekat pintu gua karena terganggu kedatangan kami. Penyu yang dari sorot matanya, tampaknya sudah hidup puluhan tahun. Makin ke dalam, ruang gua semakin gelap. Hanya ikan-ikan kedalaman, nudibranch, dan karang-karang daun. Pikiran mulai membayang, bagaimana kalau saya terjebak di dalamnya, atau selang-selang selam tersangkut, atau diserang binatang buas.

Seekor Napoleon sekitar setengah meter kami temukan sembunyi kedalaman 18 meter. Yang unik dari Gua Wundi dan yang membuatnya cocok untuk wisata cave diving, gua ini berupa lorong sepanjang sekitar 20 meter. Terdapat tiga pintu. Di kanan kiri lorong masih terdapat gua-gua kecil yang cocok buat penyelam mahir. Penyelam pemula bisa menikmatinya cukup dengan melewati lorong utama.

Kedalaman bagian-bagian dalam gua juga beragam, dari 12 meter hingga yang paling dalam hanya berupa lorong gelap gulita. Sekitar 30 menit hilir mudik di seluruh ruang gua menikmati misterinya, kami memutuskan kembali keluar melalui pintu kedua, jaraknya sekitar 20 meter dari pintu masuk.

Penyelaman kedua kami turun di Baracuda Point di dekat pulau Meoswerek.  Lokasi ini berupa dinding karang landai dengan arus kuat. Ribuan baraccuda mendiami lokasi ini. Sungguh menggetarkan. Malamnya kami menginap di Wundi.

Penyelaman esoknya kami menikmati spot penyelaman di Pulau Owi dan Ruras. Untuk sehari menyelam, harganya cukup mahal, Rp 2 juta per hari. “Semua mahal  di sini. Bensin saja Rp 25 ribu seliter,” ujar Erik Farwas.

Padaido tidak hanya menyajikan spot penyelaman Gua Wundi, Baraccuda Point, Owi, Ruras, tetapi juga masih banyak spot penyelaman lain. “Ada 29 titik penyelaman yang bisa dinikmati,” ujar Erick Farwas. Di antaranya, spot-spot penyelaman bangkai Perang Dunia II, seperti bangkai bekas kapal perang yang karam, landasan pesawat Jepang, bangkai pesawat udara, dan peralatan perang lain.

Untuk merasakan sensasi penyelaman pada spot-spot ini kami pasti akan kembali lagi ke Padaido.

WAHYUANA

Thursday, April 08, 2010

 

Magisme Topeng Cirebon



Cirebon - Sebuah pemberontakan di abad 15. Kerajaan Cirebon diserang Pangeran Welang dari Karawang. Pemberontakan yang tidak mudah dipatahkan. Raja Cirebon Sunan Gunung Jati tak mampu menghadapi pemberontak dengan kekerasan. Ia kemudian mengambil strategi menundukkan Pangeran Welang melalui rayuan perempuan penari. Dibentuklan group penari keliling. Group ini segera terkenal, dengan penarinya Nyi Mas Gandasari yang cantik dan membuat penasaran setiap laki-laki, karena selalu tampil di panggung dengan wajah tertutup topeng.

Sampailah group ini di Karawang dan membuat Pangeran Welang jatuh cinta pada Gandasari. Cinta bersambut, Nyi Mas Gandasari mau dikawini, asal Pangeran Welang mau menyerahkan senjatanya pedang Curug Sewu. Pangeran Welang setuju menyerahkan senjatanya itu, sehingga membuat kesaktiannya hilang. Maka berakhirlah pemberontakan Pangeran Welang, dan ia mengaku menyerah kalah pada Sunan Gunung Jati. Keberhasilan eksotisme tari topeng mengatasi pemberontakan ini, membuat tari topeng kemudian dianggap mempunyai kekuatan magis yang luar biasa.

Itulah kisah lampau, yang membuat seni tari topeng mempunyai pengaruh kultural kuat di masyarakat Cirebon, dibanding tari-tari topeng di Jawa dan Bali. “Dipercaya mempunyai kekuatan magis. Ratusan tahun berkembang tertutup, hanya diajarkan turun temurun dalam keluarga sang seniman,” ujar Ade Jayani, sarjana peneliti budaya di Indramayu, Cirebon.

Para penari topeng dianggap tak hanya artis hiburan, tetapi juga tokoh spiritual dalam ritual-ritual adat seperti upacara ngeruat untuk mengusir roh-roh jahat, upacara sedekah bumi, upacara meminta berkah di makam keramat, upacara nyadran, upacara pernikahan, hingga syukuran panen. “Menjadi bagian dari kosmologi spiritual masyarakat pedesaan. Bahkan para penari dipercaya bisa menyembuhkan penyakit. Namun kini keadaan sudah berubah, para seniman tari topeng ya dianggap artis penghibur belaka. Bahkan kini dalam banyak perfomance telah digabungkan dengan seni modern lain seperti seni tarling atau dangdut untuk menarik penonton,” ujar Jayani.

Menurut Jayani, setidaknya ada tujuh varian tari topeng Cirebon, yang dikembangkan oleh masing-masing keluarga sang maestro tari. Yakni tari topeng Losari gaya Mimi Sawitri yang kini diwariskan pada cucunya Nani; topeng Slangit gaya Sujana Arja yang kini diwarisi anaknya Inu Kertapati; topeng Gegesik; topeng Kalianyar; topeng Majalengka; topeng Palimanan; dan topeng Indramayu gaya Mimi Rasinah yang kini dilanjutkan cucunya Aerli Rasinah. “Tradisi ketertutupan sudah berkurang. Kini tari topeng Cirebon bisa dipelajari banyak orang. Di Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah telah dibuka kursusnya, dan setiap tahun ada saja bule yang datang mengambil short course,” ujar Ade Jayani.

Meskipun banyak varian, semua gaya tari topeng Cirebon berasal dari dasar tarian yang sama, yakni pakem lima macam wajah topeng yang masing-masing mempunyai tarian khas. Yang menggambarkan lima fase psikologi kehidupan manusia di bumi.

Yakni tari topeng Panji, dengan warna topeng putih bersih. Merupakan tarian pertama dalam setiap pertunjukkan, dengan gerakan tari yang sangat lembut, dan berlawanan dengan iringan gamelannya yang keras. Secara filsafati, menggambarkan manusia yang baru lahir dan harus menghadapi kehidupan dunia yang keras. Tarian yang biasanya dikuasai penari senior. Penari muda kurang menyukai karena gerakannya yang lamban dan lembut. Tari topeng Samba, dengan warna topeng biasanya hijau muda dengan raut muka polos. Kelembutan tariannya diimbangi dengan komposisi gamelan yang tenang, yang menggambarkan kehidupan manusia masa kanak-kanak.

Tari topeng Rumyang, dengan warna topeng merah muda. Dengan lenggak-lenggok gerakan tarian yang lincah dan iringan gamelan yang riang, tari ini menggambarkan kehidupan remaja yang sedang mencari jati diri. Penari biasanya tampak bergenit-genit mencari perhatian. Atraktif.
Tari topeng Tumenggung, dengan warna topeng merah, biasanya berkumis dan bertatokan bunga melati pada dahi topeng. Gerakan tariannya keras dengan iringan gamelan yang menggairahkan, menggambarkan fase kehidupan manusia dewasa.

Tari topeng Kelana atau Rahwana, dengan warna topeng merah tua, berkumis, dan bermahkota. Ditampilkan dengan iringan gamelan yang keras dan gerakan tari yang cenderung kasar. Menggambarkan manusia yang sedang dalam puncak kekuasaan. Digambarkan dengan gerakan-gerakan seperti berkacak pinggang, mengaca diri, pamer, dan lagak sombong. Jika pada tari Panji kesulitan penari pada kelembutannya, pada tari Kelana justru pada gerakan-gerakannya yang sangat ekspresif, keras, dan cepat. Kelana kini menjadi tarian favorit para penari muda.

Disamping lima pakem diatas, juga banyak varian tarian lain yang biasanya hanya berbeda pada ritme gamelan dan komposisi. Seperti di Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah, Pekandangan, Indramayu, juga dikenal variasi tari Kelana Udeng, Kelana Gandrung, Kelana Kiprah, dan Kelana Dursasana.

Gerakan tari topeng Cirebon tak lepas dari bunyi musik gamelan yang mengiringi. Biasanya diiringi seperangkat gamelan yang terdiri dari Kendang, Saron, Bonang, Kebluk, Jenglong, Kemanak, Suling, dan Gong. Pada beberapa pentas juga dilengkapi dengan Sinden (penyanyi) yang menyanyikan tembang-tembang dalam logat Jawareh, yaitu logat bahasa Jawa Cirebonan.

Travelounge Magazine, April 2010

 

Jejak Maestro Mimi Rasinah



Cirebon - Aerli Rasinah (26), cucu sang maestro Mimi Rasinah (80) kini meneruskan jejak sang nenek menggeluti seni tari topeng Cirebon. Sementara sang maestro yang terkena stroke, menemaninya dari pembaringan. Mimi Rasinah, penari topeng Cirebon yang mendapat gelar maestro dari pemerintah, dan setiap tahun mendapat bantuan keuangan untuk kesehatan di hari tuanya.

“Aerli lebih maju daripada neneknya, lebih organised dengan mendirikan sanggar,” ujar Ade Jayani, pengamat seni. Di sanggar ini, setiap pekan ada 200-an anak-anak yang mengambil kursus tari, disamping empat mahasiswa dari Hongaria yang setiap tahun datang untuk mengambil short course. Sejumlah rombongan turis juga sering datang, untuk melihat pementasan pendek yang diadakan sesuai pesanan.

Aerli sendiri kerap mengisi pentas tari topeng di berbagai event. Penampilannya yang apik di ajang Cross Gender Internasional Performance 2006, di Toronto, Kanada, membuatnya digelari Woman Wonderful oleh publik setempat. “Mereka takjub, tari Kelana yang maskulin, ternyata dibalik topeng dipentaskan perempuan,” ujar Aerli Rasinah, yang juga sarjana tari dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung ini. W

Travelounge Magazine, April 2010


 

Seni Kerajinan Topeng



Cirebon - Tari topeng tak bisa dilepaskan dari seni kerajinan topeng kayu. Di Cirebon dan Indramayu, masih banyak ditemui para pengrajin topeng ini. Di Indramayu, salah satunya Onie (28) yang bersama lima pengrajin lain mendirikan Sanggar Jakabaru di Desa Gandingan, Indramayu. “Tak hanya membuat topeng kayu yang pakem, kami juga membuat yang kreasi baru,” ujar Onie, langganan tempat Mimi Rasinah memesan topeng.

Kerajinan pembuatan topeng dipelajari Onie secara turun temurun, bapaknya Warsad (67), juga seorang dalang wayang golek dan pengrajin wayang golek yang terkenal hingga ke Jepang. “Kami membuat topeng dari bahan kayu Jaranan (Lannea grandis) yang ringan dan lentur. Kayu ini banyak didapatkan disekitar sini,” ujar Onie. Setelah ditebang dan dikeringkan, kayu itu akan dipahat dan diukir untuk membentuk topeng, sebelum kemudian dilakukan pengecatan untuk membentuk wajah topeng.

Untuk membuat sebuah topeng, menurut kepercayaan, seorang pengrajin harus melakukan ritual berpuasa dan bertapa dulu, namun kini Onie mengaku sudah tidak melakukan ritual itu lagi. Untuk membuat sebuah topeng pakem (Panji, Samba, Rumyang, Tumenggung, dan Kelana) Onie mengaku tak bisa menentukan waktu yang ia butuhkan. “Aneh. Kami sering diserang rasa tidak mood ketika membuat topeng pakem. Makanya perlu persiapan lahir batin. Bikin satu saja kadang butuh waktu tiga bulan,” ujar Onie.

Yang paling sulit membuat topeng Cirebon, menurut Onie, adalah membentuk karakter yang akan nampak dalam aura topeng. Karena aura itu biasanya muncul dari keseriusan hati sang pengrajin, dan bukan sekedar dari ketrampilan memahat saja. “Terutama pada topeng Kelana,” ujar Onie.

Ada empat aura yang akan muncul dalam setiap topeng yang dibuat, yakni Bajaj yaitu aura kasar, biasanya buah dari hasil kerja pengrajin yang asal-asalan dan dianggap tak bermutu; Ndrodos adalah topeng yang menampakkan aura lembek, hasil karya pengrajin yang masih kurang sepenuh hati; Wringet adalah topeng yang menampakkan aura pas dengan tarian, yang menunjukkan hasil kerja pengrajin yang berhasil dan berkualitas. Sedangkan Nggilap adalah aura topeng yang paling bagus, hasil kerja pengrajin paling mumpuni. “Jaman sekarang hasil terbaik pengrajin paling hanya sampai Wringet. Topeng nggilap biasanya jadi koleksi keramat,” ujar Onie.

Untuk setiap karyanya, Onie mengaku menjualnya antara Rp 750 ribu – 1,5 juta per topeng untuk pesanan galeri. Dan sekitar Rp 300 – 500 ribu per topeng untuk pesanan sanggar tari yang memesan banyak. W

Travelounge Magazine, April 2010

Saturday, September 05, 2009

 

Kera Kloning Super, Dua Ibu Satu Ayah




TEMPO Interaktif, Jakarta - Sekelompok peneliti dari Oregon Health and Science University, Amerika Serikat, berhasil melakukan rekayasa genetika pada sel telur kera, yang memberikan prospek terapi untuk memutus rantai penyakit keturunan yang diwariskan dari sel telur ibu. Keberhasilan ini dipublikasikan di jurnal Nature edisi 26 Agustus 2009, oleh para peneliti yang dipimpin Dr Shoukhrat Mitalipov.

Seperti diketahui di dalam sel telur, yaitu materi reproduksi dari kelamin wanita, terkandung banyak organ-organ sel. Diantaranya adalah DNA atau inti sel yang merupakan pembawa materi genetik utama dan Mitokondria yang berfungsi sebagai pusat metabolisme sel. Di dalam Mitokondria sendiri terdapat materi gen juga yang disebut DNA Mitokondria. DNA dan DNA Mitokondria mempunyai sifat-sifat yang berbeda. Kalau DNA biasanya membawa informasi genetik dari kedua orangtua yang memproduksinya. DNA Mitokondria biasanya hanya membawa informasi genetika yang diwariskan dari ibu.

Di dalam DNA Mitokondria ini biasanya banyak bersemayan materi-materi yang menyebabkan penyakit keturunan yang diwariskan dari garis ibu. Seperti anemia, hipertensi, kekerdilan, buta-tuli, kelemahan otot atau kelainan-kelainan lain. Satu dari 5.000 populasi manusia, biasanya mengidap penyakit yang diturunkan dari DNA Mitokondria. Sehingga dalam tesis Shoukrat Mitalipov, untuk mendapatkan generasi yang lebih sehat, DNA Mitokondria yang mangandung materi sakit, harus dihilangkan.

Untuk itu, Dr Shoukrat Mitalipov, melakukan proses rekayasa genetika dengan melakukan pemisahan DNA dan DNA Mitokondria pada sel telur sakit. Kemudian ia mentransplantasikan DNA itu ke sel telur dari ibu yang sehat. Sehingga menghasilkan komposisi sel telur baru yang memiliki DNA dan DNA Mitokrondria yang lebih sehat. Sel telur hasil rekayasa genetika inilah yang akan dikawinkan dengan sperma dari pejantan.

Dr Shoukrat Mitalipov, melakukan percobaan di laboratorium dengan hawan percobaan kera jenis makaka, Macacae sp., kera yang juga banyak ditemukan di Indonesia. Ia mengekstrak DNA dari sel telur kera makaka betina yang mempunyai DNA mitokondria yang tidak sehat, atau yang membawa gen penyakit keturunan. Kemudian memasukkan DNA tersebut ke sel telur kera makaka betina lain yang memiliki DNA Mitokondria yang lebih sehat, yang sebelumnya telah dikosongkan DNA-nya. Sel telur hasil kloning inilah yang kemudian dikawinkan dengan sperma dari kera makaka jantan, dalam skala pembuahan di laboratorium.

Embrio hasil perkawinan sel telur dan sperma pada skala laboratorium ini, kemudian ditransplantasikan ke dalam rahim kera makaka perempuan lain, untuk dierami dalam masa kehamilan yang normal, sampai kemudian lahir normal, seperti pada proses bayi tabung.

Dalam percobaannya yang dipublikasikan di Jurnal Nature, Dr Shoukrat Mitalipov, berhasil mendapatkan 15 embrio hasil persilangan, yang kemudian ditransplantasikan ke rahim sembilan kera makaka betina. Pada akhir percobaan, setelah lahir, mereka berhasil mendapatkan dua kera makaka kembar yang diberi nama Mito dan Tracker, dan dua kera kembar lain yang diberi nama Spindler dan Spindy. Kera-kera ini, ternyata lahir lebih sehat dari induknya, dan tidak membawa penyakit keturunan yang dibawa induk betinanya.

Para peneliti berharap, metode ini dapat menjadi jalan terapi untuk mengatasi berbagai penyakit keturunan selama ini, terutama penyakit-penyakit keturunan yang diwariskan dari sel telur.

Biasanya keberhasilan percobaan pada mamalia kera, berarti tinggal selangkah lagi untuk bisa diterapkan juga pada manusia. "Kami percaya teknik ini akan segera dapat diterapkan pada manusia," ujar Shoukhrat Mitalipov.

"Ini penemuan yang luar biasa. Metode ini akan dapat membantu banyak keluarga (yang mempunyai masalah dengan pebnyakit keturunan)," ujar Jan Smeitink, profesor bioteknologi dari Belanda.

Namun debat etik kemudian mengemuka tentang hukum keturunan dari generasi yang dihasilkan. Karena kera-kera yang dihasilkan dari proses ini, berarti tak hanya dilahirkan dari satu ibu dan satu ayah. Tetapi merupakan keturunan dari dua ibu, yang menyumbangkan DNA dan DNA Mitokondria, dalam satu sel telur, yang kemudian dikawinkan dengan sperma dari satu ayah. Belum jelas juga, bagaimana dengan status kera betina yang rahimnya telah digunakan untuk mengerami anak-anak ini, apakah dia juga bisa mengklaim sebagai ibunya.

THE WASHINGTON POST l BBC l WAHYUANA


Saturday, July 18, 2009

 

Flu Babi Lebih Berbahaya Daripada yang Diduga





TEMPO Interaktif, Jakarta - Sebuah studi baru menunjukkan bahwa serangan virus H1N1 yang sedang mewabah secara global saat ini, ternyata sangat berbahaya dan bersifat lebih mematikan daripada serangan-serangan virus influenza sebelumnya.

Jumlah penderita flu babi secara global dalam satu pekan kemarin saja, telah meningkat lebih dari 50%, menjadi 40.000 kasus di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar 5.000 - 7.000 kasus berakhir dengan kematian. Kini hampir tak ada satu pun kota besar di dunia yang terbebas dari serangan virus ini.

Di Indonesia, rilis dari Departemen Kesehatan kemarin, Senin (15/7), jumlah penderita flu babi telah mencapai 142 kasus. Padahal temuan pertama kasus flu babi di Indonesia, baru ditemukan tiga pekan lalu.

Sementara ini belum ada kasus kematian akibat flu babi di Indonesia, namun menteri kesehatan meminta masyarakat untuk bersikap antisipatif terhadap serangan virus H1N1 ini dengan cara hidup sehat dan bersih. Yakni membiasakan pola mencuci tangan dengan sabun, dan melaksanakan etika batuk dan bersin yang benar. "Apabila ada gejala Influenza gunakan masker dan tidak ke kantor, ke sekolah atau ke tempat-tempat keramaian dan istirahat di rumah selama 5 hari. Apabila flu dalam dua hari tidak sembuh segeralah periksa ke dokter," kata Siti Fadillah Supari, Senin (15/7). Keseriusan antispasi ini perlu, karena penyakit flu merupakan penyakit yang biasa menyerang manusia, sehingga seringkali diabaikan.

Data di Inggris, lebih dari 73 orang per 100.000 penduduk pada tanggal 6 - 12 Juli 2009 dilaporkan terserang flu babi, naik 46% dari pekan sebelumnya. Serangan terbesar terutama terjadi pada anak usia 5 - 14 tahun yang mencapai 159,57 kasus per 100.000 penduduk. Kemudian bayi hingga umur 4 tahun, dengan 114,12 kasus per 100.000 penduduk. Kemudian resiko terbesar diikuti orang berusia 15 - 44 tahun, kemudian 45 - 65 tahun, dan selanjutnya orang berumur 65 tahun keatas.

Lonjakan cepat serangan virus flu babi dalam dua pekan ini, telah membuat seluruh ilmuwan di dunia bekerja keras untuk menguak apa yang sedang terjadi dengan virus ini. Sebuah tim peneliti dari Universitas Madison yang dipimpin oleh Profesor Yoshihiro Kawaoka menemukan bahwa serangan virus H1N1 lebih bersifat pathogenik (lebih beresiko menyebabkan sakit) daripada serangan-serangan virus influenza sebelumnya. Penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal Nature, edisi 13 Juli 2009.

Dari hasil penelitian tim Kawaoka, serangan virus H1N1 ternyata lebih berbahaya dan lebih mematikan daripada serangan virus flu biasa. Virus H1N1 ternyata memiliki kemampuan menyerang kedalam sel-sel terdalam dari paru-paru, sehingga menyebabkan radang paru-paru (pneumonia) pada penderita, dan dalam beberapa kasus, faktor inilah yang kemudian menyebabkan kematian. Sedangkan serangan virus flu biasa, biasanya hanya meng-infeksi jaringan saluran pernapasan atas, tanpa serangan ke organ dalam paru-paru. "Inilah yang belum dimengerti dari virus ini," ujar Kawaoka, profesor patologi dan pakar influenza di Madison School of Veterinary Medicine," orang berpikir serangan virus ini seperti flu biasa. Studi kami menunjukkan serangan ini lebih serius."

Kemampuan serang virus H1N1 kedalam paru-paru ini, dalam catatan Kawaoka, mirip dengan serangan virus flu pada tahun 1918, yang juga menyebabkan wabah global dengan angka kematian mencapai belasan juta korban di seluruh dunia, sebanding dengan jumlah korban dari Perang Dunia I. Kawaoka juga menemukan, bahwa orang-orang yang lahir sebelum tahun 1918, ternyata resisten atau memiliki kekebalan terhadap serangan virus flu babi sekarang ini. Mereka memiliki antibodi terhadap serangan virus ini.

Untuk menguji tingkat bahaya virus H1N1, Kawaoka dan timnya melakukan penelitian, dengan meng-infeksikan virus ini kedalam hewan percobaan tikus, musang, dan monyet --model penelitian yang selama ini sudah umum diterapkan dalam riset-riset tentang influenza-- dengan perbandingan satu kelompok diinfeksi virus H1N1 dan kelompok pembanding diinfeksi dengan virus influenza biasa. Hasilnya, mereka menemukan virus H1N1 ternyata lebih cepat melakukan replikasi (perkembangbiakan) dan sangat cepat menyebar ke seluruh saluran respirasi hingga pada jaringan sel-sel terdalamnya, dan akhirnya menyebabkan kerusakan pada paru-paru. "Ketika kami melakukan percobaan pada musang dan monyet, virus flu biasa tidak mampu melakukan replikasi di paru-paru," ujar Kawaoka," tetapi virus H1N1 secara signifikan cepat melakukan replikasi di paru-paru."

Dalam studi ini, sample virus H1N1 diambil dari pasien flu babi dari California, Wisconsin, Netherlands, dan Jepang.

Laporan Jurnal Nature juga mengemukakan tentang penelitian respon-respon kekebalan terhadap serangan virus H1N1 ini. Dan dari hasil penelitian Kawaoka, ternyata pada orang-orang tua yang lahir sebelum 1918, tahun ketika virus ini juga pernah menyerang secara global, memiliki antibodi yang mampu menetralisir serangan. "Orang yang memiliki antibodi terhadap serangan ini adalah orang-orang tua yang lahir sebelum 1918," ujar Kawaoka.

Pada penelilian uji perlakuan antiviral pada tikus, Kawaoka menemukan bahwa obat-obat antiviral (yaitu obat-obat anti serangan virus) secara efektif mampu mengurangi laju serangan virus ini dan dapat memperlambat penyebarannya. "Obat itu mampu bekerja efektif dalam hewan percobaan, dan itu menunjukkan juga akan bekerja efektif pada organ manusia," ujar Kawaoka.

Untuk saat ini, obat antiviral inilah yang dipandang sebagai strategi pertama untuk menghadapi serangan virus H1N1, sebelum dunia medis mampu menemukan obatnya. Di Indonesia, strategi ini juga yang baru bisa dilakukan dalam menghadapi serangan virus H1N1. Pasien terduga flu babi, biasanya diberikan obat antiviral Tamiflu sambil mendapatkan perawatan kesehatan untuk memperkuat daya kekebalan tubuhnya menahan serangan virus ini.

Yang belum jelas, bagaimana pola penyebaran global dari virus ini. Internasional traffict selama ini disalahkan sebagai medium penyebaran virus ini secara global.


SCIENCEDAILY l TIMESONLINE l BBCl WAHYUANA


Sunday, April 12, 2009

 

Bo Anjing Kesayangan Keluarga Obama





Senin, 13 April 2009 | 01:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta : “Anjing adalah sahabat terbaik yang bisa diandalkan.” Pepatah lama ini tampaknya telah menjadi bagian dari kosakata politik Amerika. Sesuai tradisi, presiden-presiden Amerika selalu memiliki anjing kesayangan yang menemaninya di Gedung Putih. Seperti tuannya, anjing presiden pun biasanya juga mendapat pelayanan kelas satu. Kemana-mana ada pengawal yang selalu mengawasi.

Setelah 3 bulan menghuni gedung putih tanpa anjing, minggu kemarin, keluarga Presiden Barack Hussein Obama akhirnya menemukan anjing kesayangannya sendiri. Anjing beruntung berusia 6 bulan itu diberi nama Bo. Ia kini menjadi penghuni baru gedung putih, yang segala tingkah lakunya juga akan menjadi pusat perhatian media.

Bo ternyata binatang peliharaan pertama keluarga Obama. Selama ini, keluarga Obama tak pernah mempunyai binatang kesayangan. Mereka mendapatkan anjing keturunan Potugal itu dari pemberian Senator Edward M. Kennedy dari Massachuset, yang memberikannya sebagai hadiah buat putri Obama, Sasha, 7, dan Malia, 10.

Sasha dan Malia kemudian menamakan anjing itu seperti nama kucing milik sepupunya yang juga bernama Bo. Nama itu ternyata juga disukai oleh ibu negara Michele Obama, yang mengingatkan Michele pada nama mendiang ayahnya Diddley, dan juga mengasosiasikan pada nama penyanyi jazz kesukaannya Bo Diddley.

“Bo akan duduk jika melihat kedua gadis itu (Sasha dan Malia) duduk. Dia juga akan berdiri jika melihat tuannya berdiri. Bo tak pernah salah masuk toilet. Dia juga tak pernah merusak furniture. Bo anjing yang cerdas, yang telah menyerap semua pelajaran dari pelatih anjing Senator Kennedy. Anjing itu telah dilatih di sebuah tempat rahasia, yang tertutup, di luar Washington,” komentar koran Washington Post.

Presiden-presiden Amerika selalu mempunyai anjing kesayangan yang akan selalu menemani selama menjalani tugas-tugas berat di Gedung Putih. President Lyndon B Jhonson misalnya memiliki Yuki, anjing kesayangan yang semula ia temukan tengah terdampar tak terurus di sebuh pom bensin di Texas.

President Dwight Eisenhower menjalani hari-hari kerjanya di Ruang Oval bersama Heidi, anjing kesayangan keturunan Jerman. Presiden George Walter Bush memiliki anjing Berney, Miss Beazley dan kucing hitam legam yang ia beri nama India. Nama kucing George W Bush ini, bahkan sempat mengundang demonstrasi di New Delhi, mereka memprotes nama India digunakan sebagai nama binatang peliharaan. Ayahnya, Presiden George Bush, juga memiliki dua ekor anjing kesayangan selama menghuni Gedung Putih yaitu Millie dan Ranger.

Jhon F. Kennedy barangkali presiden penggemar berat anjing dibanding presiden-presiden Amerika yang lain. Ia membawa 6 anjing kesukaannya sekaligus ke Gedung Putih, diantaranya Shannon, Charlie, Clipper dan Pushinka yang merupakan hadiah dari Khrushchev.

Dalam publikasi pertamanya yang dilansir Gedung Putih, Senin (13/4), Bo tampak gagah. Ia dipotret dengan memakai tuxedo hitam, dasi putih, cakar putih dan janggut putih. Ia juga dipotret dengan kostum lain seperti layaknya seorang selebriti, dengan memakai slayer bulu warna-warni. Ia akan menempati posisi sama istimewanya dengan Obama di Gedung Putih.

LATIMES l WASHINGTONPOST l WAHYUANA

Sunday, March 22, 2009

 

Journalism standards matter



Warief Djajanto Basorie , The Jakarta Post, Tue, 02/17/2009

When the media covers a conflict, accusations of bias can land on its doorstep. A case in point is the three-week Israeli offensive into Gaza that ended in mid-January. The BBC received more than 11,000 complaints when, on Jan. 26, it decided not to broadcast a TV appeal by aid agencies for victims, particularly children, of Israel's assault on Gaza. BBC Director-General Mark Thompson denied he had been subject to the lobbying of pro-Israel interests. He maintained the corporation had a duty to cover Gaza in a "balanced, objective way."

Journalists on the ground could be influenced to take sides in witnessing distressed children left homeless and parentless.

To do so, though, might let their impartiality become hostage to the events they are covering. Indeed, every journalist should follow his or her own conscience.

Journalists should, however, exercise in earnest the paramount obligation common to all in their profession: Journalism's first obligation is to the truth. In Elements of Journalism, Bill Kovach and Tom Rosenstiel state that after assembling and verifying the facts, "journalists try to convey a fair and reliable account of their meaning."

Further to this, journalism's first loyalty is to citizens. This means coverage is not slanted and with a commitment that it should present a representative picture of all constituent groups in society.

Observing the first two out of the 10 elements of journalism enumerated by Kovach, journalists should attempt to report on the opposing sides of a conflict situation. In Gaza, a Palestinian grandmother waves a white cloth but an Israeli soldier still shoots his automatic firearm and maims her grandchild. The BBC reports the event citing two independent witnesses. It then seeks a response from the Israeli military and a spokesperson for the Israeli Defense Force replies the matter is under investigation.

It is this approach to reporting, covering all the pertinent sources, that sustains the credibility of the journalist. By providing credible reporting, the journalist has tried to convey a fair and reliable account. The coverage is not slanted and purposefully attempts to provide a representative picture of what happened.

It is not easy to cover conflict or a tragedy, or even a seemingly conventional news conference, and not be affected by it. Journalists can express emotions. An extreme case is Iraqi TV journalist Muntadhar al-Zeidi angrily pitching both his shoes at then US President Bush in Baghdad on Dec. 14, 2008.

However journalists should exert self-control on the job to get the most worth out of the assignment. Covering a conflict should not lead to a conflict in conscience. One-sided coverage of the fighting in Gaza in favor of the Palestinians may be well-meaning to advocate their cause but it could stir resentment from those who perceive the reporting is unbalanced and lead to accusations of media bias. The danger of one-sided reporting is that it could foment an "us and them" mentality.

In Indonesia, such charges of taking sides in relation to the media's reporting of the communal conflict in the Maluku islands, for instance, are one example. More than 8,000 people died from January 1999 to 2001 in the violence that started in Ambon, the provincial capital, and spread to North and Southeast Maluku. The local media in Ambon split along communal lines. It got co-opted to be the trumpet of the contending communal groups and succumbed to carrying provocative news during the escalating conflict. Radio stations also became partisan.

It was only after the February 2002 peace agreement between the conflicting faiths, reached in the South Sulawesi hill town of Malino, that the reporting became less biased. The establishment of the Maluku Media Center by journalists concerned with unbiased and non-provocative reporting helped to restore the peace.

At the national level, "Indonesian journalists are independent in producing accurate, balanced and malice-free news stories." This call is underscored in Article 1 of the Journalistic Code of Ethics (KEJ) that 29 journalists and media organizations drafted in March 2006 and approved by the Press Council. The 11-Article KEJ should be a working guide for the balanced, unbiased reporting of Indonesian journalists.

The writer is a journalism instructor at the Dr. Soetomo Press Institute (Lembaga Pers Dr. Soetomo, LPDS) in Jakarta.


This page is powered by Blogger. Isn't yours?