Tuesday, November 28, 2006

 

Industri Farmasi Indonesia dan Jepang Perlu Meningkatkan Kerjasama Untuk Menghadapi Pasar Bebas Obat ASEAN 2008

Oeh : Wahyuana

Eiji Echikawa, konsultan industri farmasi yang bekerja untuk Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GP Farmasi) di Jakarta, mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan industri farmasi Jepang dan Indonesia perlu segera konsolidasi dan meningkatkan kerjasama antara keduanya untuk menghadapi perdagangan bebas industri farmasi di ASEAN yang akan dimulai tahun 2008. “Kita perlu meningkatkan kerjasama melalui pertukaran teknologi, pelatihan atau joint manufacturing untuk meningkat kualitas produk obat. Kalau tidak, industri farmasi Indonesia akan ketinggalan dan Indonesia hanya akan jadi pasar saja bagi produk-produk farmasi dari luar,” ujar Echikawa.

Mulai tahun 2008 akan diberlakukan kesepakatan perdagangan bebas obat tingkat ASEAN. Mulai saat itu berlaku harmonisasi perdagangan tingkat ASEAN. Dimana untuk industri farmasi berlaku ketentuan current Good Manufacturing Practices (cGMP) yang terdiri dari dua persyarakatan utama yaitu ASEAN Common Technical Dossier dan ASEAN Common Technical Requirements (ACTD/ACTR). “Melalui ketentuan ini, sebuah perusahaan farmasi tidak perlu lagi untuk meregistrasikan produknya di setiap negara ASEAN untuk beredar bebas, tetapi cukup meregistrasikan produknya di salah satu negara ASEAN, dan produk itu sudah boleh dipasarkan di semua negara ASEAN,” ujar Ichikawa. ACTD/ACTR merupakan persyaratan standardisasi quality obat dan kemasan yang diberlakukan sama di semua negara-negara ASEAN. Standar itu, diantaranya meliputi jaminan keamanan pemakaian, standar sehat proses produksi, standar khasiat, dan standard penggunaan bahan-bahan dasar obat. Dengan ketentuan ini obat dapat beredar bebas di tingkat ASEAN yang diharapkan akan semakin meningkatkan mutu kualitas obat dan juga akan menurunkan harga obat di pasaran tingkat ASEAN.

Jika ketentuan ini mulai diberlakukan tahun 2008, diperkirakan akan ada banyak industri farmasi Indonesia yang akan gulung tikar. “Diperkirakan banyak industri farmasi Indonesia yang akan kesulitan menyesuaikan diri memenuhi persyaratan ketentuan ini. Tidak usah membicarakan masalah teknis proses pembuatan obat dan quality-nya dulu. Untuk proses packaging saja, masih banyak industri farmasi Indonesia yang kualitas packaging obat-nya yang masih jauh dibawah persyaratan standard,” ujar Ichikawa.... more...

Comments: Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?