Sunday, October 08, 2006

Armada Marun, pada Suatu Pagi

Oleh : Wahyuana

Menyaksikan dari dekat kehidupan para biksu di Myanmar.



Pagi yang sibuk di Yangon. Di depan pintu sebuah rumah, terdengar
suara lirih seorang biksu dengan pakaian jubah warna marun dan
berkepala gundul berucap, "Sadhu, sadhu, sadhu (bagus, bagus, bagus),"
kepada tuan rumah yang menyerahkan uang. Dia berkata sambil
menundukkan kepala, tidak sekedip pun menatapkan matanya ke wajah
pemilik rumah.

Pagi itu, tuan rumah memberi Ain Daw Bar Tha--sang biksu--uang sedekah
sebesar 50 kyats (sekitar Rp 300). Uang itu kemudian dia masukkan ke
dalam thabaik (mangkuk sedekah) warna hitam. Mangkuk itu berisi
beberapa puluh uang recehan hasil pemberian sedekah uang dari rumah ke
rumah yang telah dia kunjungi sebelumnya.

U Saw Sein Kar, pemilik rumah yang disinggahi sang biksu, adalah
pedagang kecil dan punya pekerjaan sampingan sebagai penerjemah buku
bahasa asing. Dia tinggal di sebuah apartemen sederhana di kawasan
Jalan 33st yang sibuk dan ruwet di tengah Yangon.

Menurut dia, penghasilannya 30-40 ribu kyats (Rp 400-500 ribu) per
bulan. Dengan hidup bersama satu istri, yang juga bekerja sebagai
pedagang, dan dua orang anak remaja, dia tergolong sebagai keluarga
kelas menengah di Yangon.

Setiap hari dia menyisihkan uang sekitar 200 kyats, yang dia sediakan
untuk memberi sedekah kepada tiap biksu yang datang ke rumahnya.
"Kadang sampai 10 orang yang datang silih berganti, terutama di hari
Minggu. Saya memberi sedekah semampu saya. Sebagai penganut Buddha,
sudah jadi kewajiban memberikan sedekah kepada para biksu. Sedekah
diberikan dalam bentuk uang karena lebih praktis."

Mayoritas masyarakat Myanmar taat menjalankan perintah ritual
agamanya. Tiap hari di waktu pagi dan malam, U Saw Sein Kar selalu
berdoa di depan sebuah boks simbol Buddha di rumahnya. Dia selalu
menangkupkan tangan sebagai tanda rasa hormat setiap bertemu dengan
para biksu.

Agama Buddha Theravada di Myanmar dikenal lebih konservatif,
tradisional, dan puritan dalam menerapkan ritual-ritual yang mereka
percayai sebagai ritual yang masih murni dari warisan Sidharta
Gautama, saat masih hidup 2.500 tahun lampau. ..more...

These stories were produced under the 2006 journalism fellowship program of the Southeast Asian Press Alliance (SEAPA), www.seapabkk.org

The story was published at Korantempo daily, www.korantempo.com

3 comments:

SEKJEN PENA 98 said...
This comment has been removed by a blog administrator.
wahyu said...
This comment has been removed by the author.
shootib said...

y8s80o4q56 y7w14i6i18 t3f76y0h55 z6d04r1r93 a7q58v4z96 c2b26g5d71