Wednesday, September 07, 2005

 

Seri otomotif : Industri Ban Menangguk Untung dari Pesatnya Industri Otomotif

by Wahyuana

Industri ban merupakan salah satu sektor industri yang paling mantap posisinya di Indonesia. Produksinya selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, juga untuk ekspor. Bahkan untuk ban mobil, lebih dari separuh produksi untuk ekspor. Tak heran kalau ban dari Indonesia terkenal di Jepang, Jerman, negara-negara Asia, dan Timur Tengah. Bahkan ban merk Gajah Tunggal mampu menguasai sekitar 2% pasar ban di Jerman, dan 30% pasar di Philipina.

Tahun ini, seiring dengan perkembangan yang optimis di dunia industri otomotif dalam negeri, industri ban pun akan menangguk prospek penjualan yang cukup cerah. Diperkirakan akan tumbuh sekitar 10% untuk pasar ban mobil dan 6% untuk pasar ban sepeda motor. Memang tingkat konsumsi ban di Indonesia, terutama ban mobil, masih rendah dan hanya bergerak stagnan. Tetapi data di tahun 2004 untuk penjualan ban mobil di pasar retail tumbuh sekitar 5% dibanding tahun 2003. Pasar ban retail merupakan indikator utama prospek bisnis ban. Data ini membawa optimisme pasar ban mobil dalam negeri akan bergerak membaik. Apalagi prediksi dari Gaikindo tahun ini pertumbuhan pasar mobil sampai sekitar 600.000 unit setahun. Sehingga permintaan akan ban mobil pasti akan meningkat.

Proyeksi produksi ban mobil di semua kelas di tahun 2005 ini diperkirakan akan mencapai sekitar 40.469.000 unit ban setelah tahun 2004 lalu mencatat angka produksi 35.371.000 unit. Sedangkan di produksi ban sepeda motor diproyeksikan mampu memproduksi 20.695.000 unit, setelah pada tahun 2004 berproduksi sekitar 18.610.000 unit (lihat tabel).

Berbeda dengan ban mobil, produksi ban sepeda motor sebagian besar digunakan untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Pasar ekspor untuk jenis ban sepeda motor masih sangat sedikit, hanya sekitar 3% dari produksi, bahkan berkecenderungan kian turun, ekspor tahun 2003 sekitar 568 unit, tahun 2004 turun menjadi 497 unit, dan tahun 2005 ini diproyeksikan ekspor ban sepeda motor akan meningkat lagi menjadi antara 589 unit sampai 800 unit.

Data dari Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) menunjukkan nilai ekspor ban tahun 2004 yang ditetapkan sekitar US$ 400 juta, ternyata terealisasi US$ 455 juta. Meningkat dari tahun 2003 sebesar US$ 370 juta. “Tahun 2005 ini, kami optimistis nilai penjualan ke luar negeri mencapai US$ 500 juta,” kata Ketua Umum APBI, Aziz Pane, kepada JIEF Magazine, baru – baru ini.

Menurut Aziz Pane masih terbuka peluang mengisi pasar ekspor ban. Permintaan ban dunia diperkirakan tahun ini sekitar 1.300 juta unit dengan tingkat pertumbuhan 3-5% per tahun. Dari jumlah itu, Indonesia baru mensuplay sekitar 1-2% (sekitar 20 juta) dari total kebutuhan. Apalagi ada kecenderungan terjadi pergeseran pasar ban internasional yang sebelumnya dikuasai negara-negara Eropa dan Amerika, sekarang mulai digeser produk-produk dari negara-negara Asia Timur.

Selain potensi pasar kebutuhan ban yang besar. Indonesia juga diuntungkan oleh tersedianya bahan karet alam yang murah dan berlimpah, sehingga membuat industri ban Indonesia lebih kompetitif dibanding negara lain. Kebutuhan karet alam untuk produksi ban tahun ini diperkirakan akan mencapai sekitar 171.905 ton, atau meningkat 12,3% dibanding tahun 2004 sebesar 153.058 ton. “Tetapi sekitar 62% bahan baku selain karet alam masih impor, seperti karet sintetis, carbon black, tire cord, rubber chemical, polyester ban dan bead wire. Semua komoditi itu dipasar dijual dengan harga dollar. Sehingga harga ban sangat dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar,” ujar Aziz Pane.

Sampai saat ini ada delapan pemain utama pasar ban di Indonesia. PT Gajah Tunggal dengan produk merk Gajah Tunggal masih mendominasi pasar. Menguasai sekitar 28% pasar ban mobil, sekitar 59% pasar ban sepeda motor, dan 30% ekspor ban Indonesia (lihat tabel dan grafik). Produk-produk Gajah Tunggal di pasaran diantaranya merk Champiro 40, Champiro HPZ, dan Champiro 50 di jenis ban mobil.

Urutan berikutnya, PT. Bridgestone Tire Indonesia yang memproduksi merk Bridgestone yang menguasai sekitar 40% pasar ban mobil. Di pasaran produk-produk Bridgestone diantaranya B-Series, Dueler, Potenza, Regno, Techno, dan Turanza. Turanza amat populer bagi konsumen ban mobil SUV di Indonesia. Bridgestone yang mulai berdiri di Indonesia tahun 1977, dengan mendirikan pabrik produksinya di Bekasi, hanya memproduksi ban mobil. Bridgestone juga menguasai 23% kebutuhan pasar ekspor.

Pangsa pasar berikutnya dikuasai oleh perusahaan ban tertua di Indonesia, PT. Goodyear Indonesia yang berdiri sejak tahun 1935, dan menguasai sekitar 8% pasar ban mobil. Sama seperti Bridgestone, Goodyear tidak memproduksi ban sepeda motor. Produk-produk dari Good Year diantaranya Eagle F1 GSD, Eagle NCT5, Eagle Ventura, dan Ducari GA. Di pasar ekspor Goodyear menguasai sekitar 16% pasar.

Bagaimana dengan industri ban Jepang di Indonesia ? PT. Sumi Rubber Indonesia yang merupakan anak perusahaan Sumitomo group ternyata tak tinggal diam di bisnis ban. Dengan investasi sekitar US $ 7 miliar, perusahaan patungan dengan beberapa industri ban Amerika ini, hadir di pasar dengan produk bernama Dunlop. Menguasai sekitar 12% pasar ban mobil dan juga 12% pasar ban sepeda motor. Produk-produk merk Dunlop dikenal populer masyarakat karena mencukupi kebutuhan di sektor mobil maupun sepeda motor. Di pasar ekspor ban Dunlop juga menunjukkan taringnya dengan menguasai sekitar 12% peluang pasar.
Perusahaan-perusahaan ban lain diantaranya; PT. Mega Safe Tyre Industry dengan produk ban bermerk Mega, PT. Industri Karet Deli dengan produk merk Swallow, PT. Intirub dengan produk merk Intrub, PT. Ariga Mira Rubber Works dengan produk bermerk Aaron, PT. Suryaraya Rubberindo Industries dengan produk ban merk Federal, PT. Elang Perdana Tyre Industry dengan produk merk Epco, PT. Banteng Pratama dengan merk Mizzle, perusahaan ban dari Korea PT. Hung-A Indonesia dengan produk-produk merk Thunderbird, dan PT. United King-Land dengan produk merk Kingland.

Meskipun prospek bisnis ban di Indonesia terlihat cerah, namun yang mengkhawatirkan adalah serbuan ban bekas selundupan dari China dan India yang dijual dengan harga murah di pasar Indonesia. “Jumlahnya ratusan merk dan mengganggu pasar sampai sekitar 15%. Itulah kenapa pasar penjualan retail (replacement) di Indonesia tidak banyak berkembang. Karena serbuan ban illegal,” ujar Aziz Pane.

Untuk mengatasi penyelundupan ban-ban illegal ini, mulai Maret 2006, industri ban di Indonesia mulai menerapkan SNI (Standard Nasional Indonesia) yang mewajibkan semua perusahaan ban melakukan registrasi produk. SNI ini diterapkan terutama pada produk-produk ban di kelas ban mobil penumpang (SNI 06-0098-2002), ban truk ringan (SNI 06-0100-2002), ban truk dan bus (SNI 06-0099-2002), ban sepeda motor (SNI 06-0101-2002) dan ban dalam kendaraan bermotor (SNI 06-6700-2002). Ijin SNI wajib tercetak langsung pada ban. Dengan penerapan SNI ini diharapkan akan mengurangi maraknya ban selundupan di Indonesia.
Selain itu, APBI mulai bulan ini juga telah mendaftarkan hak kekayaan intelektual (HAKI) dari ratusan tread pattern (tapak ban) ban-ban produk dari industri-industri ban di Indonesia. “Dengan pendaftaran patent ini, tidak akan ada lagi pemalsuan produk dan agar tidak terulang kasus beberapa tahun lalu, ketika tiba-tiba ada orang mengklaim kreasi tread pattern –nya telah dibajak oleh perusahaan ban,” ujar Aziz Pane, yang juga ketua Bidang Standardisasi Kadin Indonesia.***

In completely the article was published in Japanese at JIEF Magazine

Comments: Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?